Untuk Para Pengabdi

Pengabdi-040214-sgd-1

Abdi dalem mengikuti prosesi wisuda di Bangsal Magangan, Keraton Yogyakarta, Selasa (4/2).  Setiap dua kali dalam satu tahun abdi dalem punokawan dan keparajan menerima serat kekancingan atau surat keputusan pada upacara wisuda abdi dalem dengan agenda mengangkat abdi dalem baru, menaikkan pangkat, pemindahan bagian, serta pemberian ganjaran atau hadiah.

Sigid Kurniawan/14

Merapi Mulai Menagih Janji

Sejumlah warga bersiaga di samping rumahnya yang berada pada jarak 3,5 km dari puncak Gunung Merapi pasca terjadi hujan abu di Kali Tengah Lor, Sleman, Yogyakarta, Senin (22/7).

Sejumlah warga bersiaga di samping rumahnya yang berada pada jarak 3,5 km dari puncak Gunung Merapi pasca terjadi hujan abu di Kali Tengah Lor, Sleman, Yogyakarta, Senin (22/7).

This slideshow requires JavaScript.

Pertengahan Ramadhan 2013, Senin (22/7) sekitar 04.15 pagi, Gunung Merapi kembali menunjukkan keberadaannya.  Terdengar suara dentuman  diikuti asap yg membumbung tinggi yang teramati dari sejumlah Pos Pengamatan Gunung Merapi. Sontak sebagian warga yang tengah atau usai menyantap saur menjadi panik. Selang sejenak, hujan abu pun mengguyur di sejumlah kawasan lereng Merapi. Rupanya kesiapsiagaan serta kewaspadaan masyarakat akan bencana tengah di uji. Sejatinya, alam sedang mencari keseimbangan, ketika manusia memberlakukan alam dengan semena-mena, alam pun takkan tinggal diam, namun jika kita bersahabat dengan alam, niscaya damai akan selalu mengiringi.

Alam akan memberikan manfaat kepada manusia jika manusia menghargai dan bersahabat dengannya, namun alam akan menagih janji atas perlakuan  “keserakahan” yang dilakukan manusia terhadapnya yang notabenenya merupakan sesama makhluk Tuhan itu.

Sigid Kurniawan

Late Afternoon with the Fire Fighter

_MG_5774

This slideshow requires JavaScript.

Jakarta, early September 2011

Garuda (masih) di Dadaku

….”Garuda di dadaku, garuda kebanggaanku ku yakin, hari ini pasti menang“….

Sayup-sayup tembang dari band Netral itu berkumandang di Stadion Gelora Bung Karno pada Senin Senin 21 November malam itu. Ya laga itu merupakan laga final sepakbola SEA Games XXVI antara Indonesia melawan Malaysia.

Bagi para pecinta sepakbola, khususnya di tanah air, mata masyarakat Indonesia seakan tertuju pada laga yang mampu membangkitkan rasa patriot bangsa tersebut. Atmosfir di stadion yang memerah mengisyaratkan bahwa “kita” harus menang”. Namun ternyata keberuntungan belum berpihak pada para “Garuda Muda” , mereka akhirnya rela untuk tumbang dikandang usai kalah dalam drama adu pinalti dengan skor 5-4. Terlepas dari kekalahan tersebut, setidaknya sejumlah perbedaan dan keangkuhan yang ada melebur sejenak demi dukungannya kepada sang “Garuda Muda”.

This slideshow requires JavaScript.

Foto dan teks : Sigid Kurniawan

Reaching for Hope at Scavenger Kids Schooling

This slideshow requires JavaScript.

Publish on Exposure Magz 43 rd Edition

Merayakan Fitri di Balik Jeruji | Eid al-Fitr behind the Iron Grating

Mampu berkumpul bersama sanak saudara dan keluarga untuk merayakan sebuah hari raya merupakan dambaan setiap insan manusia. Namun ada sebagian dari masyarakat Indonesia yang merayakan makna hari raya tersebut di tempat yang jauh dari keluarga. Salah satunya ialah para narapidana yang tengah mendekam dibalik tebalnya tembok, pagar besi dan ketatnya penjagaan di Lembaga Permasyarakatan Cipinang, Jakarta Timur.

Ditengah hiruk pikuk suasana hari raya Idul Fitri, narapidana yang terdiri dari berbagai para pelaku kejahatan tersebut merayakan lebaran dengan penuh suka cita dan keprihatinan. Tinggal dibalik jeruji tidak menyurutkan semangat dari para narapidana tersebut merayakan hari yang jatuh hanya pada satu tahun sekali tersebut

Walau terkadang di mata masyarakat mereka dipandang sebelah mata, namun para narapidana tersebut juga punya hak untuk memperoleh kebahagiaan. Ketika lebaran tiba, LP Cipinang membuka kesempatan bagi masyarakat untuk mengunjungi sanak saudaranya yang mendekam di rumah tahanan. Hal tersebut dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk berbagi dan silaturahmi. Walaupun memang lain dari kebanyakan perayaan lebaran yang ada, tetap saja hal tersebut merupakan sebuah bentuk anugerah bagi para narapidana yang punya kesempatan merayakan fitri di balik jeruji.

_______

Having a celebration on a feast day together with their family is a longing for everyone in this world. Among all of the people in Indonesia, there are still a few people who have no other choice but celebrating the feast day far away from their family. They are the prisoners who are being imprisoned in a thick wall covered by iron grating and having a strict surveillance in the penitentiary of Cipinang, East Jakarta.

Amid the frenzied atmosphere of the Eid al-Fitr, those prisoners who commit different crime celebrate that feast day with a great joy and concern. Staying behind that grating does not dampen their spirit to celebrate the feast day that comes only once in a year.

Although sometimes the society underestimates them, the prisoners still have the right to gain their happiness. When the Eid al-Fitr comes, the penitentiary of Cipinang gives a chance to the family whose relative is being imprisoned so that they can meet him and have a celebration together. They use this opportunity to show their affection toward their family.

Although it is a different kind of celebration from the one which is exists mostly, it is such a wonderful gift for the prisoners who have a chance to celebrate Eid al-Fitr behind the iron grating.

This slideshow requires JavaScript.

Photo dan Text : Sigid Kurniawan

Risky Job in Cobra Slaughterhouse

Publish in Exposure Magazine 37th Edition

This slideshow requires JavaScript.